Jumat, 30 Desember 2016
Minggu, 25 Desember 2016
3 Pilar Perjuangan Muhammadiyah
“Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan Muhammadiyah?”
“Yaitu orang-orang yang
menghardik Angkatan Muda Muhammadiyah, menggerogoti Amal
Usaha Muhammadiyah, serta tak peduli pada prahara keumatan, kebangsaan
dan kemanusiaan”.
Kalimat diatas tertorehkan pada sebuah
stiker kumal, yang tertempel pada dinding kusam Gedung Pusdiklat
Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), di Jalan Lompobattang 201, sekitar
awal dekade 2000-an. Kalimat tersebut sebenarnya cukup singkat, namun
mampu merepresentasikan kegelisahan kaum mudaMuhammadiyah kala itu.
Kalimat tersebut bukan sekadar menggambarkan persoalan, namun secara
tersirat juga menggambarkan strategi perjuangan yang
dilakukan Muhammadiyah.
Jika Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR) menyosialisasikan empat pilar bangsa (UUD 1945, Pancasila, Bhineka
Tunggal Ika, dan NKRI), maka tulisan ini ingin menawarkan tiga pilar
yang kerap dipercakapkan dalam sejumlah grup media sosial para aktivis
Muhammadiyah, baik melalui Facebook ataupun Whats App. Ketiga pilar tersebut adalah Ranting, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Penguatan Ranting
Ada anggapan bahwa Muhammadiyah tak
lebih dari sebuah Yayasan besar, yang memiliki banyak lembaga
pendidikan, kesehatan dan sosial. Anggapan tersebut mungkin berangkat
dari asumsi bahwa Muhammadiyah tak banyak bersentuhan dengan masyarakat
di tingkat bawah. Bahkan di sejumlah daerah, ada masjid Muhammadiyah
diambil alih oleh gerakan Islam yang lain. Mungkin karena, Muhammadiyah
tak lagi memiliki kader di tingkat ranting, yang mengurusi masjid
tersebut. Bagi sebagian Pimpinan Muhammadiyah, mungkin mengorganisir
ranting tidak penting. Ranting tidak menjanjikan popularitas dan materi.
Ranting tak bersentuhan dengan pejabat, dan jauh dari hingar bingar
media massa.
Ranting-lah ujung tombak gerakan. Segala
kebutuhan masyarakat, mulai dari kebutuhan pembinaan keagamaan, sampai
persoalan sosial dan ekonomi, mesti ditanggapi secara cepat dan tepat
oleh ranting. Revitalisasi ranting tidak cukup dengan pembentukan
Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR). Jika Pimpinan
Muhammadiyah memiliki komitmen terhadap ranting, seharusnya salah satu
syarat menjadi Pimpinan Persyarikatan, termasuk di level PPM dan PWM,
adalah keaktifan sebagai pegiat ranting. Langkah yang dilakukan oleh Dr.
Mustari Bosra (Wakil Ketua PWM Sulsel), merintis pendirian sejumlah
ranting di sekitar tempat tinggalnya, patut diapresiasi dan diikuti oleh
Pimpinan lainnya.
Meski demikian, ada beberapa catatan
kritis terkait pemaknaan ranting. Dalam konteks masyarakat agraris,
dimana orang lebih banyak menghabiskan waktu di sekitar tempat
tinggalnya, makna ranting dalam cakupan geografis tidak menjadi
persoalan. Namun dalam masyarakat industrial, masyarakat lebih banyak
menghabiskan waktu di tempat kerja, bahkan menghabiskan waktu luang pun
lebih sering dilakukan bersama teman seprofesi, atau dalam komunitas
berbasis hobi. Dalam konteks seperti itu, mungkin ranting perlu
diorganisir dalam komunitas berbasis profesi atau hobi.
Belum lagi, dalam masyarakat
post-industrial, dimana masyarakat lebih sering berjumpa dalam
ruang-ruang virtual. Perjumpaan melalui media sosial seperti facebook, twitter, whats-app, atau blackberry messenger,
jauh lebih intensif dibanding pertemuan fisik. Kehadiran grup-grup di
media sosial, mungkin dapat dimaknai sebagai wajah lain ranting,
sepanjang grup itu dikelola dengan kesadaran untuk berbagi spirit
pencerahan Muhammadiyah.
Pemberdayaan AMM
Strategi kaderisasi terbukti mampu
membuat Muhammadiyah bisa tetap eksis hingga meng-gapai usia lebih dari
satu abad. Kiai Dahlan, sang pendiri gerakan ini, sedari awal menyadari
kekuatan kaum muda dalam membangun dan mengembangkan gerakan. Dalam
perkembangannya, kesadaran merekrut kaum muda diinstitusionalisasikan
melalui pembentukan sejumlah Organisasi Otonom (Ortom), yaitu Nasyiatul
‘Aisyiyah (1916), Pemuda Muhammadiyah (1932), Ikatan
Pelajar Muhammadiyah (1961), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (1964).
Nampaknya belakangan, sinergitas gerak
antara Persyarikatan dan AMM kurang terpadu. Kaderisasi AMM cenderung
berjalan sendiri, sesuai dengan dinamika ide dan wacana yang mereka
kembangkan. Pimpinan Muhammadiyah pun lebih sibuk dengan agendanya
sendiri, khususnya menata AUM. Bahkan sering terjadi, Pimpinan
Muhammadiyah menolak menjadi pemateri di perkaderan AMM, dengan alasan
kesibukan. Ada pula Pimpinan Persyarikatan yang lebih fokus menghakimi
perilaku kader AMM, mengkritik model perkaderan, sampai ungkapan “AMM
kurang kreatif mencari dana”.
Cara pandang saling menyalahkan harus
diakhiri. Pimpinan Muhammadiyah dan AMM mesti bersinergi. Investasi
jangka panjang persyarikatan adalah dengan melakukan pendampingan yang
optimal terhadap AMM. Misalnya, rekomendasi Musywil Muhammadiyah ke-39,
untuk memfasilitasi pemberian beasiswa kader, maupun pembentukan biro
jodoh bagi AMM, patut menjadi program prioritas PWM Sulsel periode ini.
Amal Usaha Muhammadiyah
Sebenarnya istilah “AUM” telah mengalami
penyempitan makna, hanya berupa lembaga formal seperti sekolah,
perguruan tinggi, atau rumah sakit. AUM hanya berasosiasi dengan dakwah
secara institusional. Bahkan ada yang memaknainya lebih sempit lagi, AUM
adalah “badan usaha”, lembaga yang bukan hanya menghasilkan pahala,
melainkan juga materi. Padahal AUM memiliki makna yang luas, sebagai
setiap aktivitas berkelanjutan demi pencapaian tujuan Muhammadiyah.
Masjid dan kegiatan seperti pengajian pun, dapat disebut sebagai AUM.
Penggunaan istilah “menggerogoti AUM”
pada awal tulisan ini, sepertinya menyadari penyimpangan makna AUM.
Kritik tersebut hadir, karena spirit kehadiran AUM (termasuk bidang
pendidikan dan kesehatan), adalah untuk menyentuh kaum dhuafa (lemah) dan mustadhafien (terpinggirkan). Jika tidak demikian, maka sejatinya AUM tersebut telah kehilangan alas pikir pendiriannya.
Dalam sejumlah diskusi, ada beberapa
persoalan yang sering diulas terkait AUM. Misalnya, AUM yang tidak
menjalankan spirit ideologi Muhammadiyah, kaidah AUM yang tidak
dijalankan, pengelola yang tidak berasal dari kalangan kader, minimnya
pemberdayaan AMM mengelola AUM, privatisasi AUM, pengelolaan yang kurang
profesional, AUM yang tidak terurus atau salah urus, dan sejumlah
persoalan lainnya. Inilah sejumlah pekerjaan rumah yang menanti kearifan
dan problem solving dari PWM baru.
Akhirnya, jika pilar gerakan seperti
ranting, AMM, dan AUM telah kokoh,
lantas kemana orientasi perjuangannya? Ranting yang kuat, AMM yang
militan, dan AUM yang progresif adalah senjata perjuangan.
Lawannya adalah prahara yang sedang berlangsung di tengah-tengah umat,
bangsa dan dunia kemanusiaan.
MILITANSI, Solusi Kelesuan Organisasi
Militan merupakan kata/ ungkapan yang selalu terdengar menakutkan/ ekstrem ditelinga para musuh Islam, bahkan dikalangan kita pun kata/ ungkapan itu selalu identik kepada saudara kita Islam kanan/ Islam garis keras. So sebagaian dari saudara kita juga risih akan sebutan itu. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan militan dan perlukah Muhammadiyah akan hal itu?
Militan sebagaimana dalam kamus besar bahasa Indonesia bermakna bersemangat tinggi. Untuk membina suatu organisasi diperlukan orang-orang yang militan dan penuh pengabdian. Dari makna tersebut dapat kita tarik benang merah bahwa sebenarnya militan adalah vitamin yang dibutuhkan oleh setiap organisasi untuk kelangsungan aktivitas organisasi ke depan yang telah tertera dalam program kerja. Perjalanan setiap organisasi memang tidak lepas dari orang-orang yang mempunyai ruh-ruh semangat tinggi (militan).
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan yang berkiprah dibidang dakwah, dalam sejarah berdirinya didirikan oleh seorang yang mempunyai ghirah perjuangan yang tinggi. Sehingga Muhammadiyah sampai sekarang eksistensinya selalu membawa perubahan bagi kehidupan bermasyarakat. Sungguh betapa dibutuhkannya vitamin militan yang membawa kesegaran dan kebugaran organisasi. Di era masa kini banyak generasi kita terkonstaminasi penyakit-penyakit hedonisme, pragmatisme, dan isme-isme yang lain. Aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan hanyalah untuk kepentingan sesaat.
Ada yang untuk menghibur diri, ingin dipuji, gengsi, memuluskan kepentingan-kepentingan pribadi dan lain-lain. Senada dengan itu dan lagi membudaya di lingkungan kita adalah meletan. Meletan ini berasal dari bahasa jawa yang dalam bahasa Indonesianya berarti suka mencari dan membicarakan so mencela kekurangan orang lain tanpa ia sadari bahwa sebenarnya ia sendiri tidak mampu melakukan dan atau bahasa orang-orang akademi berbicara melangit tidak membumi.
Waakhiran tidak ada satu bahasa yang pas kecuali “AYO BEKERJA JANGAN BICARA SAJA”. Pemuda sebagai generasi yang masih mempunyai tenaga fresh untuk mengangkat senjata-senjata perjuangan demi terciptanya masyarakat yang berperadaban, membawa misi ilahiyah rahmatal lil,alamin harus benar-benar mengarahkan modal tenaganya kearah militansi. Karena tiada guna militansi tinggi yang tidak didukung dengan tenaga fresh.Militan bagi Pemuda Muhammadiyah adalah wajib adanya, karena dari situlah sebenarnya embrio-embrio inovasi akan menelurkan ide-ide cerdas yang membumi di Peryarikatan Muhammadiyah. Kelesuan di organisasi selama ini akibat dari sebuah kemasan kegiatan yang monoton tanpa sebuah variasi yang memberikan image kepada warga bahwa ini adalah hal baru. Sehingga sebagian warga Muhammadiyah bergeming bahwa hanya begini-begini saja kegiatan Muhammadiyah. Dari kemiskinan inovasi tersebut banyak kita lihat kader-kader persyarikatan yang mempunyai militansi tinggi hijrah dari Muhammadiyah dan juga warga Muhammadiyah yang kita ajak berkegiatan tidak merespon.Walhasil mari kita bermilitansi ria dalam mengemban amanat dakwah ini sebagaimana bidang yang telah kita emban agar kelesuan selama ini menjadi fresh. Fasstabiqul khairat.
3 Kekuatan Pendorong Muhammadiyah Eksis hingga sekarang
Dalam rangka memeriahkan Milad Muhammadiyah 107 H dan Pelantikan Pimpinan
Cabang Muhammadiyah Se Kabupaten Nganjuk dan Kwarda HW Kab. Nganjuk yang
diselenggrarakan di Pendopo Nganjuk Ruang Anjuk Ladang. Ahad 25 Desember 2016.
Wakil Ketua PWM Jawa Timur Prof. Dr. Thohir Luth, MA mengatakan Muhammadiyah memandang bahwa NKRI merupakan hasil Konsensus (kesepakatan)
nasional dan tempat pembuktian atau kesaksian untuk menjadi negeri yang aman
dan damai menuju kehidupan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat
dalam naungan ridha Allah SWT. Hasil kesepakatan atau Konsensus itulah yang
diistilahkan dengan Darul ‘Ahdi,
Negara Kesepakatan Nasional. Sedangkan Negara Kesaksian diistilahkan dengan Darusy Syahadah. Sehingga Indonesia
sebagai NKRI, dimaknai oleh Muhammadiyah sebagai Negara hasil kesepakatan
nasional dan Negara kesaksian, Darul
‘Ahdi Wa Syahadah.
Pandangan kebangsaan Muhammadiyah ini sejalan dengan cita-cita Islam
tentang Negara idaman yaitu, Baldatun
Thayibatun Wa Rabbun Ghafur, yaitu negri yang baik dan berada dalam ampunan
Allah SWT. Selanjutnya beliau mengaskan negara
yg kita saksikan keberadaannya, bersama pemerintah membangun semua lini untuk
mensejahterakan rakyat. Negara dan Ormas Islam hrs sinergi bagai gayung
bersambut, krn jika hanya mengandalkan APBN, maka negara akan Hutang ke luar
negeri, jika negara dan pemerintah mampu membangun sinergi dgn Muhahammadiyah akan
bisa membangun unit layanan sosial, ekonomi pendidikan dan budaya. Indonesia
tanpa Muhammadiyah bagaikan negara tersinari matahari yang tertutup mendung. Negara
ini bisa bagus karena dipimpin oleh orang yg sehat dan pintar. Terkait dengan
banyaknya orang asing yang datang ke Indonesia, Pemerintah harus bersikap tegas
dan Jangan kalah dengan orang asing yang datang ke Indonesia untuk menguras
habis SDA sekaligus menyebarkan Ideologinya.
Pada kesempatan lain beliau mengatakan bahwa Muhammadiyah eksis sampai
dengan hari ini, bukan berarti tanpa masalah, dinamika sebuah perjuangan Muhammadiyah
spt Matahari yang kadang tertutup mendung di siang hari, walaupun begitu
Muhammadiyah mampu melewati itu semua karena ada 3 kekuatan besar muhammadiyah
yg membuat tetap eksis:
1. Ketulusan para pendiri dan pejuang.
Yang
harus senantiasa kita cermati adalah hal yang akan menjadikan kebaikan itu
bermakna adalah Ketulusan, yaitu perbuatan baik yang semata-mata kita lakukan
hanya mengharap balasan dari Allah SWT. Sadarilah!! Orang yang tidak tulus akan
capek dengan kebaikannya. Begitu sebaliknya ketulusan akan menjadikan pelaku
kebaikan dalam puncak kepuasan hati. Saat kita berbuat baik kepada orang lain
hanya sebagai basa-basi sosial dan hanya mengharap balasan kebaikan
berupa materi. Disaat kebaikan yang dinanti tidak kunjung didapat, maka rasa
jengkel tersembunyi akan menguasai hati kita dan menghantarkan kita untuk
menghitung-hitung kebaikan yang pernah kita lakukan.
2. Amaliyah yg Istiqomah
Istiqamah adalah mudaawamah (kontinyu), rutin dan berkesinambungan.
Layaknya orang yang menempuh perjalanan, tidak cukup baginya mengetahui arah
jalan dan memahami rambu-rambu. Seseorang yang ingin sampai ke tujuan harus
menempuh proses atau usaha untuk mendekati tempat tujuan. Dan tak ada cara yang
lebih efektif mendekatkan seseorang ke tempat tujuan selain berjalan dengan kontinyu
dan rutin. Karena itu berjuang di Muhammadiyah bukanlah perjalanan yang pendek,
butuh nafas panjang dan stamina yang senantiasa terjaga.
3. Militansi /Semangat dlm gerakan
perjuangan.
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan yang
berkiprah dibidang dakwah, dalam sejarah berdirinya didirikan oleh seorang yang
mempunyai ghirah perjuangan yang tinggi. Sehingga Muhammadiyah sampai sekarang
eksistensinya selalu membawa perubahan bagi kehidupan bermasyarakat. Sungguh
betapa dibutuhkannya vitamin militan yang membawa kesegaran dan kebugaran
organisasi. Di era masa kini banyak generasi kita terkonstaminasi
penyakit-penyakit hedonisme, pragmatisme, dan isme-isme yang lain.
Aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan hanyalah untuk kepentingan sesaat. Disinilah
pentingnya militansi bermuhammadiyah agar Muhammadiyah bisa eksis ila yaumil
qiyamah. Tidak ada satu bahasa yang pas kecuali “AYO BEKERJA JANGAN BICARA SAJA”
A Zainal Abidin Al-Floresi (Ketua MEK PCM Ngronggot)
Selasa, 01 November 2016
LazisMU Salurkan Listrik Gratis Pada 1.064 Rumah di Daerah Non Muslim NTT
LazisMu_ Sebagai komitmen membangun masyarakat yang adil dan sejahtera, Muhammadiyah melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Muhammadiyah (Lazismu) berpartisipasi aktif mewujudkan akses listrik bagi masyarakat miskin melalui program Indonesia Terang.Program tersebut akan menyasar 1.064 kepala keluarga di 6 desa di Kecamatan Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur yang merupakan masuk daerah tertinggal di Indonesia. Di wilayah NTT sendiri mayoritas masyarakatnya adalah non muslim, dalam melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan, Muhammadiyah khususnya Lazismu tak pernah membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan.Andar Wibowo Direktur Utama Lazismu mengungkapkan guna menyukseskan program tersebut pihaknya telah bekerjasama dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan akan mulai melakukan instalasi awal pada akhir oktober ini. “Jadi kami akan dibantu oleh TNP2K dalam hal data dan pemetaan keluarga miskin,” jelas Andar kepada awak media di Jakarta Convention Center.Program tersebut meliputi bantuan solar panel berkapasitas 100 Kwh yang secara gratis akan diberikan kepada rumah tangga miskin dan tidak mampu.“Ini program pertama Lazismu, program kedua rencananya akan menarget 10 ribu keluarga di wilayah Madura,” terang Andar.Regi Wahono ketua TNP2K mengatakan persoalan pengentasan kemiskinan bukan merupakan hal mudah. Kemiskinan di Indonesia didasari oleh tiga aksek yakni pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dasar.“Listrik ini masuk ke infrastruktur dasar. di Indonesia itu elektrifikasinya baru 88,3 persen sisanya 12 sekian persen masih mengandalkan lampu minyak tanah dan mengakibatkan dana subsidi pemerintah terganggu,” ucap Regi. Regi berharap program Indonesia Terang Lazimu dapat berguna dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat miskin. (sp/kbk)
Rabu, 26 Oktober 2016
SEMARAK GEMA MUHARRAM 1438 H MUHAMMADIYAH RANTING NGRONGGOT
Ngronggot-LAZISMU. Dalam rangka memeriahkan dan
menyemarakkan peringatan tahun baru 1438
hijriyah, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Desa Ngronggot menggelar acara “Gema
Muharram 1438” Acara yang berlangsung pada hari Ahad, 23 Oktober 2016 ini
memiliki 3 agenda kegiatan yaitu : Pengobatan Gratis, Pengajian Umum dan
Santunan Yatim dan Dhu’afa.
Pada acara pengobatan Gratis PRM Desa Ngronggot yang bekerja
sama dengan Rumah Sakit Aisyiyah Nganjuk yang dilaksanakan pada sore harinya
sebanyak 45 orang yang memanfaatkan jasa pengobatan gratis tersebut. Pada Acara Pengobatan Gratis juga hadir Tim
dari Nusa Optik Cabang Nganjuk dan Kertosono yang dipimpin oleh Bapak Suliono
menghadirkan tim dokter spesialis mata, sebayak 6 orang yang memanfaatkan jasa
tersebut.
Pada malam harinya dilanjutkan dengan Pengajian Umum yang
disampaikan oleh Bapak KH. Ali Mansur Kastam Pengasuh Pondok Pesantren YTP
Kertosono, dalam uraiannya beliau menyampaikan agar umat Islam mampu memberikan
kontribusi nyata pada masyarakat. Antusiasme masyarakat dalam mengikuti
pengajian umum ini sangat tinggi, ini terlihat dari undangan yang tersebar
sebanyak 250 namun yang hadir mencapai 400 orang. Sementara itu setelah
pengajian umum dilanjutkan dengan penyerahan paket sembako oleh Lazismu Nganjuk.
Sebanyak 50 yatim piatu dan kaum dhuafa
di Desa Ngronggot Kecamatan Ngronggot menerima santunan berupa bingkisan paket
sembako dari Lazismu Nganjuk. Sebelumnya
Santunan ini telah diberikan secara simbolis kepada 4 orang oleh
Ketua Lazismu Nganjuk sebelum acara pengajian umum dimulai.
Dalam sambutannya Ketua Lazismu Nganjuk mengatakan bahwa
santunan tersebut diberikan kepada 50 anak yatim dan dhuafa sebagai bentuk
kepeduliannya terhadap sesama yang membutuhkan/kurang beruntung. Beliau berharap
agar masyarakat mempercayakan penyerahan ZISWAF kepada Lazismu disamping Lazismu merupakan
Lembaga Amil Zakat Nasional, Lazismu juga merupakan lembaga Amil Zakat yang
transparan dan kredibel dan juga mempunyai komitmen untuk mengurangi angka
kemiskinan dan pengangguran hal ini terlihat dari program- programnya.
Sementara itu Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Desa
Ngronggot Bapak Acub Zainal Abidin
Al-Floresi dalam sambutannya mengatakan,
kegiatan seperti ini akan menjadi agenda tahunan PRM Desa Ngronggot, Pria asli
Flores ini berharap dukungan dan do’a restu agar dalam melaksanakan amanah
sebagai pimpinan ranting selalu istiqomah dalam memberikan pelayanan kepada
umat. Beliau berjanji agar kegiatan seperti ini pada tahun- tahun akan datang lebih meriah dan lebih banyak lagi peserta yang mendapatkan manfaat baik santuan, pengobatan dan kegiatan lainnya yang akan digelar oleh PRM Desa Ngronggot
Seluruh rangkaian acara tersebut dilaksanakan di halaman rumah bpk H. Sabili Rahman Dusun Dingin Desa Ngronggot Kec. Ngronggot.


Seluruh rangkaian acara tersebut dilaksanakan di halaman rumah bpk H. Sabili Rahman Dusun Dingin Desa Ngronggot Kec. Ngronggot.


Lazismu – TNP2K Tandatangani MoU Program Indonesia Terang
Jakarta – LAZISMU. Untuk mewujudkan komitmen pemberdayaan, lembaga amil zakat nasional, Lazismu bersama Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menggelar kick-off atau pembuka rencana agenda ujicoba program listrik bagi masyarakat miskin, di Sekretariat TNP2K, Kebon Sirih, Jakarta (13/9/2016).
Dalam pertemuan itu, dipaparkan bentuk program dan tahapan-tahapan program serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) program Indonesia Terang. Acara tersebut dihadiri Bambang Widianto, selaku Sekretaris Eksekutif TNP2K dan Hilman Latief, Ketua Badan Pengurus Lazismu. Sementara hadir juga perwakilan dari pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT dan Yayasan Besi Pae.
Jalinan kerjasama ini dilatarbelakangi, dengan perlunya akses bagi rumah tangga ekonomi terendah. Karena itu, Bambang Widianto, mengatakan, akses yang dimaksud adalah ada sekitar 1,6 juta rumah tangga miskin dan tidak mampu belum menikmati akses listrik terutama di desa yang tidak terjangkau.
Maka TNP2K melakukan uji coba secara bertahap, dan pada kesempatan ini bersinergi dengan Lazismu. “Terutama dalam pemberdayaan masyarakat secara produktif agar lebih tepat sasaran dan membantu penyelesaian masalah sosial masyarakat yang terus berkembang,” katanya.
Ketua Badan Pengurus Lazismu, Hilman Latief, menyambut baik rencana itu, karena sejalan dengan gerakan Lazismu dalam upaya mengentaskan permasalahan kemiskinan. “Selain itu, sesuai dengan sasaran Lazismu khususnya di wilayah terluar, terjauh dan terdalam (3T),” jelasnya.
Hilman menambahkan, Lazismu berkomitmen untuk melakukan pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan. Hal ini, mencakup kemiskinan multi dimensional, teturama kesenjangan akses terhadap layanan dasar.
Karena itu, Lazismu dalam beberapa tahun ke depan terus berusaha memperkuat pengarusutamaan SDGs dalam program-programnya, jelasnya. Kerjasama ini merupakan satu bentuk implementasi program Lazismu di daerah 3T. “Dan sekaligus mendorong satu program SDGs yang terkait dengan Sustainable Villages Cities and Communities,” pungkasnya.
Hilman menekankan, prorgram Indonesia Terang, yang akan diuji coba di tiga desa yaitu, Naileu, Kusi Utara dan Oemaman di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan jumlah sasaran 283 Rumah Tangga Sasaran (RTS) bersama TNP2K dan mitra lainnya, diyakini Lazismu dapat meningkatkan kapasitas, produktifitas dan kemandirian desa.
“Produktivitas di sini terkait juga dengan kesempatan belajar lebih besar buat anak-anak usia sekolah, bekerja buat orang tua mereka, maupun untuk kegiatan sosial ekonomi,” terangnya.
Sumber : www.lazismu.org
Langganan:
Komentar (Atom)






