Jumat, 30 Desember 2016

LAZISMU kembali dikukuhkan Jadi LAZ Nasional


LAZISMU secara resmi telah dikukuhkan sebagai lembaga amil zakat nasional melalui SK Menteri Agama Republik Indonesia No. 730 tahun 2016, per tanggal 14 Desember 2016.

SK Kementerian Agama RI tentang Pengukuhan Lazismu sebagai Laznas telah diserahkan langsung oleh Bapak Juraidi selaku Dirjen Zakat Kemenag RI yg mewakili Menteri Agama kepada Bapak Hilman Latief selaku Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat.

Direktur Utama LAZISMU, Andar Nubowo menyampaikan, dengan adanya SK ini, LAZISMU akan mengoptimalkan aktivitas pemberdayaan yang produktif. Sebelumnya, LAZISMU pada hari raya kurban kemarin, mencatat Tabulasi Kurban Nasional mencapai 149.955 ribu pequrban, dengan 3.967.985 penerima manfaat. Sementara nilai ekonomi kurban yang terhimpun sebesar Rp 320 miliar.

Pada rakornas LAZISMU di Sidoarjo pada bulan April tahun 2016 lalu bersepakat untuk menetapkan target perolehan nasional sebesar Rp 250 miliar. “Dengan demikian, bercermin dari nilai ekonomi kurban yang telah dicapai, Lazismu optimis perolehan mencapai 400 miliar rupiah” paparnya.

Andar menyatakan saat ini telah menyiapkan program utama di kawasan 3 T (terdepan, terluar dan tertinggal). “Salah satunya melalui program Indonesia Terang dan Klinik Apung “Said Tuhuleley” di Indonesia Timur,” paparnya.

Lazismu berkomitmen selalu menjaga kapabilitasnya sebagai LAZ nasional, seiring dengan tingkat kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh terhadap LAZISMU, kata Andar mengapresiasi ekosistem zakat nasional yang makin optimis. (zainal abidin al-floresi)

Minggu, 25 Desember 2016

3 Pilar Perjuangan Muhammadiyah

Muhammadiyah bersama Kaum Papa (Sumber: https://jejakpemikiran.wordpress.com/)
“Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan Muhammadiyah?”
“Yaitu orang-orang yang menghardik Angkatan Muda Muhammadiyah, menggerogoti Amal Usaha Muhammadiyah, serta tak peduli pada prahara keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan”.

Kalimat diatas tertorehkan pada sebuah stiker kumal, yang tertempel pada dinding kusam Gedung Pusdiklat Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), di Jalan Lompobattang 201, sekitar awal dekade 2000-an. Kalimat tersebut sebenarnya cukup singkat, namun mampu merepresentasikan kegelisahan kaum mudaMuhammadiyah kala itu. Kalimat tersebut bukan sekadar menggambarkan persoalan, namun secara tersirat juga menggambarkan strategi perjuangan yang dilakukan Muhammadiyah.
Jika Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menyosialisasikan empat pilar bangsa (UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI), maka tulisan ini ingin menawarkan tiga pilar yang kerap dipercakapkan dalam sejumlah grup media sosial para aktivis Muhammadiyah, baik melalui Facebook ataupun Whats App. Ketiga pilar tersebut adalah Ranting, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Penguatan Ranting
Ada anggapan bahwa Muhammadiyah tak lebih dari sebuah Yayasan besar, yang memiliki banyak lembaga pendidikan, kesehatan dan sosial. Anggapan tersebut mungkin berangkat dari asumsi bahwa Muhammadiyah tak banyak bersentuhan dengan masyarakat di tingkat bawah. Bahkan di sejumlah daerah, ada masjid Muhammadiyah diambil alih oleh gerakan Islam yang lain. Mungkin karena, Muhammadiyah tak lagi memiliki kader di tingkat ranting, yang mengurusi masjid tersebut. Bagi sebagian Pimpinan Muhammadiyah, mungkin mengorganisir ranting tidak penting. Ranting tidak menjanjikan popularitas dan materi. Ranting tak bersentuhan dengan pejabat, dan jauh dari hingar bingar media massa.
Ranting-lah ujung tombak gerakan. Segala kebutuhan masyarakat, mulai dari kebutuhan pembinaan keagamaan, sampai persoalan sosial dan ekonomi, mesti ditanggapi secara cepat dan tepat oleh ranting. Revitalisasi ranting tidak cukup dengan pembentukan Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR). Jika Pimpinan Muhammadiyah memiliki komitmen terhadap ranting, seharusnya salah satu syarat menjadi Pimpinan Persyarikatan, termasuk di level PPM dan PWM, adalah keaktifan sebagai pegiat ranting. Langkah yang dilakukan oleh Dr. Mustari Bosra (Wakil Ketua PWM Sulsel), merintis pendirian sejumlah ranting di sekitar tempat tinggalnya, patut diapresiasi dan diikuti oleh Pimpinan lainnya.
Meski demikian, ada beberapa catatan kritis terkait pemaknaan ranting. Dalam konteks masyarakat agraris, dimana orang lebih banyak menghabiskan waktu di sekitar tempat tinggalnya, makna ranting dalam cakupan geografis tidak menjadi persoalan. Namun dalam masyarakat industrial, masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja, bahkan menghabiskan waktu luang pun lebih sering dilakukan bersama teman seprofesi, atau dalam komunitas berbasis hobi. Dalam konteks seperti itu, mungkin ranting perlu diorganisir dalam komunitas berbasis profesi atau hobi.
Belum lagi, dalam masyarakat post-industrial, dimana masyarakat lebih sering berjumpa dalam ruang-ruang virtual. Perjumpaan melalui media sosial seperti facebook, twitter, whats-app, atau blackberry messenger, jauh lebih intensif dibanding pertemuan fisik. Kehadiran grup-grup di media sosial, mungkin dapat dimaknai sebagai wajah lain ranting, sepanjang grup itu dikelola dengan kesadaran untuk berbagi spirit pencerahan Muhammadiyah.

Pemberdayaan AMM
Strategi kaderisasi terbukti mampu membuat Muhammadiyah bisa tetap eksis hingga meng-gapai usia lebih dari satu abad. Kiai Dahlan, sang pendiri gerakan ini, sedari awal menyadari kekuatan kaum muda dalam membangun dan mengembangkan gerakan. Dalam perkembangannya, kesadaran merekrut kaum muda diinstitusionalisasikan melalui pembentukan sejumlah Organisasi Otonom (Ortom), yaitu Nasyiatul ‘Aisyiyah (1916), Pemuda Muhammadiyah (1932), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (1961), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (1964).
Nampaknya belakangan, sinergitas gerak antara Persyarikatan dan AMM kurang terpadu. Kaderisasi AMM cenderung berjalan sendiri, sesuai dengan dinamika ide dan wacana yang mereka kembangkan. Pimpinan Muhammadiyah pun lebih sibuk dengan agendanya sendiri, khususnya menata AUM. Bahkan sering terjadi, Pimpinan Muhammadiyah menolak menjadi pemateri di perkaderan AMM, dengan alasan kesibukan. Ada pula Pimpinan Persyarikatan yang lebih fokus menghakimi perilaku kader AMM, mengkritik model perkaderan, sampai ungkapan “AMM kurang kreatif mencari dana”.
Cara pandang saling menyalahkan harus diakhiri. Pimpinan Muhammadiyah dan AMM mesti bersinergi. Investasi jangka panjang persyarikatan adalah dengan melakukan pendampingan yang optimal terhadap AMM. Misalnya, rekomendasi Musywil Muhammadiyah ke-39, untuk memfasilitasi pemberian beasiswa kader, maupun pembentukan biro jodoh bagi AMM, patut menjadi program prioritas PWM Sulsel periode ini.

Amal Usaha Muhammadiyah
Sebenarnya istilah “AUM” telah mengalami penyempitan makna, hanya berupa lembaga formal seperti sekolah, perguruan tinggi, atau rumah sakit. AUM hanya berasosiasi dengan dakwah secara institusional. Bahkan ada yang memaknainya lebih sempit lagi, AUM adalah “badan usaha”, lembaga yang bukan hanya menghasilkan pahala, melainkan juga materi. Padahal  AUM memiliki makna yang luas, sebagai setiap aktivitas berkelanjutan demi pencapaian tujuan Muhammadiyah. Masjid dan kegiatan seperti pengajian pun, dapat disebut sebagai AUM.
Penggunaan istilah “menggerogoti AUM” pada awal tulisan ini, sepertinya menyadari penyimpangan makna AUM. Kritik tersebut hadir, karena spirit kehadiran AUM (termasuk bidang pendidikan dan kesehatan), adalah untuk menyentuh kaum dhuafa (lemah) dan mustadhafien (terpinggirkan). Jika tidak demikian, maka sejatinya AUM tersebut telah kehilangan alas pikir pendiriannya.
Dalam sejumlah diskusi, ada beberapa persoalan yang sering diulas terkait AUM. Misalnya, AUM yang tidak menjalankan spirit ideologi Muhammadiyah, kaidah AUM yang tidak dijalankan, pengelola yang tidak berasal dari kalangan kader, minimnya pemberdayaan AMM mengelola AUM, privatisasi AUM, pengelolaan yang kurang profesional, AUM yang tidak terurus atau salah urus, dan sejumlah persoalan lainnya. Inilah sejumlah pekerjaan rumah yang menanti kearifan dan problem solving dari PWM baru.
Akhirnya, jika pilar gerakan seperti ranting, AMM, dan AUM telah kokoh, lantas kemana orientasi perjuangannya? Ranting yang kuat, AMM yang militan, dan AUM yang progresif adalah senjata perjuangan. Lawannya adalah prahara yang sedang berlangsung di tengah-tengah umat, bangsa dan dunia kemanusiaan.

MILITANSI, Solusi Kelesuan Organisasi

http://almuflihun.com/wp-content/uploads/2014/08/p01-a_37.img_assist_custom-560x373.jpg

Militan merupakan kata/ ungkapan yang selalu terdengar menakutkan/ ekstrem ditelinga para musuh Islam, bahkan dikalangan kita pun kata/ ungkapan itu selalu identik kepada saudara kita Islam kanan/ Islam garis keras. So sebagaian dari saudara kita juga risih akan sebutan itu. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan militan dan perlukah Muhammadiyah akan hal itu?

 Militan sebagaimana dalam kamus besar bahasa Indonesia bermakna bersemangat tinggi. Untuk membina suatu organisasi diperlukan orang-orang yang militan dan penuh pengabdian. Dari makna tersebut dapat kita tarik benang merah bahwa sebenarnya militan adalah vitamin yang dibutuhkan oleh setiap organisasi untuk kelangsungan aktivitas organisasi ke depan yang telah tertera dalam program kerja. Perjalanan setiap organisasi memang tidak lepas dari orang-orang yang mempunyai ruh-ruh semangat tinggi (militan).

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan yang berkiprah dibidang dakwah, dalam sejarah berdirinya didirikan oleh seorang yang mempunyai ghirah perjuangan yang tinggi. Sehingga Muhammadiyah sampai sekarang eksistensinya selalu membawa perubahan bagi kehidupan bermasyarakat. Sungguh betapa dibutuhkannya  vitamin militan yang membawa kesegaran dan kebugaran organisasi. Di era masa kini banyak generasi kita terkonstaminasi penyakit-penyakit hedonisme, pragmatisme, dan isme-isme yang lain. Aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan hanyalah untuk kepentingan sesaat.

Ada yang untuk menghibur diri, ingin dipuji, gengsi, memuluskan kepentingan-kepentingan pribadi dan lain-lain. Senada dengan itu dan lagi membudaya di lingkungan kita adalah meletan. Meletan ini berasal dari bahasa jawa yang dalam bahasa Indonesianya berarti suka mencari dan membicarakan so mencela kekurangan orang lain tanpa ia sadari bahwa sebenarnya ia sendiri tidak mampu melakukan dan atau bahasa orang-orang akademi berbicara melangit tidak membumi.

Waakhiran tidak ada satu bahasa yang pas kecuali “AYO BEKERJA JANGAN BICARA SAJA”. Pemuda sebagai generasi yang masih mempunyai tenaga fresh untuk mengangkat senjata-senjata perjuangan demi terciptanya masyarakat yang berperadaban, membawa misi ilahiyah rahmatal lil,alamin harus benar-benar mengarahkan modal tenaganya kearah militansi. Karena tiada guna militansi tinggi yang tidak didukung dengan tenaga fresh.Militan bagi Pemuda Muhammadiyah adalah wajib adanya, karena dari situlah sebenarnya embrio-embrio inovasi akan menelurkan ide-ide cerdas yang membumi di Peryarikatan Muhammadiyah.  Kelesuan di organisasi selama ini akibat dari sebuah kemasan kegiatan yang monoton tanpa sebuah variasi yang memberikan image kepada warga bahwa ini adalah hal baru. Sehingga sebagian warga Muhammadiyah bergeming bahwa hanya begini-begini saja kegiatan Muhammadiyah. Dari kemiskinan inovasi tersebut banyak kita lihat kader-kader persyarikatan yang mempunyai militansi tinggi hijrah dari Muhammadiyah dan juga warga Muhammadiyah yang kita ajak berkegiatan tidak merespon.Walhasil mari kita bermilitansi ria dalam mengemban amanat dakwah ini sebagaimana bidang yang telah kita emban agar kelesuan selama ini menjadi fresh. Fasstabiqul khairat. 

3 Kekuatan Pendorong Muhammadiyah Eksis hingga sekarang



Dalam rangka memeriahkan Milad Muhammadiyah 107 H dan Pelantikan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Se Kabupaten Nganjuk dan Kwarda HW Kab. Nganjuk yang diselenggrarakan di Pendopo Nganjuk Ruang Anjuk Ladang. Ahad 25 Desember 2016. Wakil Ketua PWM Jawa Timur Prof. Dr. Thohir Luth, MA mengatakan Muhammadiyah memandang bahwa NKRI merupakan hasil Konsensus (kesepakatan) nasional dan tempat pembuktian atau kesaksian untuk menjadi negeri yang aman dan damai menuju kehidupan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat dalam naungan ridha Allah SWT. Hasil kesepakatan atau Konsensus itulah yang diistilahkan dengan Darul ‘Ahdi, Negara Kesepakatan Nasional. Sedangkan Negara Kesaksian diistilahkan dengan Darusy Syahadah. Sehingga Indonesia sebagai NKRI, dimaknai oleh Muhammadiyah sebagai Negara hasil kesepakatan nasional dan Negara kesaksian, Darul ‘Ahdi Wa Syahadah.

Pandangan kebangsaan Muhammadiyah ini sejalan dengan cita-cita Islam tentang Negara idaman yaitu, Baldatun Thayibatun Wa Rabbun Ghafur, yaitu negri yang baik dan berada dalam ampunan Allah SWT. Selanjutnya beliau mengaskan negara yg kita saksikan keberadaannya, bersama pemerintah membangun semua lini untuk mensejahterakan rakyat. Negara dan Ormas Islam hrs sinergi bagai gayung bersambut, krn jika hanya mengandalkan APBN, maka negara akan Hutang ke luar negeri, jika negara dan pemerintah mampu membangun sinergi dgn Muhahammadiyah akan bisa membangun unit layanan sosial, ekonomi pendidikan dan budaya. Indonesia tanpa Muhammadiyah bagaikan negara tersinari matahari yang tertutup mendung. Negara ini bisa bagus karena dipimpin oleh orang yg sehat dan pintar. Terkait dengan banyaknya orang asing yang datang ke Indonesia, Pemerintah harus bersikap tegas dan Jangan kalah dengan orang asing yang datang ke Indonesia untuk menguras habis SDA sekaligus menyebarkan Ideologinya.
Pada kesempatan lain beliau mengatakan bahwa Muhammadiyah eksis sampai dengan hari ini, bukan berarti tanpa masalah, dinamika sebuah perjuangan Muhammadiyah spt Matahari yang kadang tertutup mendung di siang hari, walaupun begitu Muhammadiyah mampu melewati itu semua karena ada 3 kekuatan besar muhammadiyah yg membuat tetap eksis:
1.      Ketulusan para pendiri dan pejuang.
Yang harus senantiasa kita cermati adalah hal yang akan menjadikan kebaikan itu bermakna adalah Ketulusan, yaitu perbuatan baik yang semata-mata kita lakukan hanya mengharap balasan dari Allah SWT. Sadarilah!! Orang yang tidak tulus akan capek dengan kebaikannya. Begitu sebaliknya ketulusan akan menjadikan pelaku kebaikan dalam puncak kepuasan hati. Saat kita berbuat baik kepada orang lain  hanya sebagai basa-basi sosial dan hanya mengharap balasan kebaikan berupa materi. Disaat kebaikan yang dinanti tidak kunjung didapat, maka rasa jengkel tersembunyi akan menguasai hati kita dan menghantarkan kita untuk menghitung-hitung kebaikan yang pernah kita lakukan.
2.      Amaliyah yg Istiqomah
Istiqamah adalah mudaawamah (kontinyu), rutin dan berkesinambungan. Layaknya orang yang menempuh perjalanan, tidak cukup baginya mengetahui arah jalan dan memahami rambu-rambu. Seseorang yang ingin sampai ke tujuan harus menempuh proses atau usaha untuk mendekati tempat tujuan. Dan tak ada cara yang lebih efektif mendekatkan seseorang ke tempat tujuan selain berjalan dengan kontinyu dan rutin. Karena itu berjuang di Muhammadiyah bukanlah perjalanan yang pendek, butuh nafas panjang dan stamina yang senantiasa terjaga.
3.      Militansi /Semangat dlm gerakan perjuangan.
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan yang berkiprah dibidang dakwah, dalam sejarah berdirinya didirikan oleh seorang yang mempunyai ghirah perjuangan yang tinggi. Sehingga Muhammadiyah sampai sekarang eksistensinya selalu membawa perubahan bagi kehidupan bermasyarakat. Sungguh betapa dibutuhkannya  vitamin militan yang membawa kesegaran dan kebugaran organisasi. Di era masa kini banyak generasi kita terkonstaminasi penyakit-penyakit hedonisme, pragmatisme, dan isme-isme yang lain. Aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan hanyalah untuk kepentingan sesaat. Disinilah pentingnya militansi bermuhammadiyah agar Muhammadiyah bisa eksis ila yaumil qiyamah. Tidak ada satu bahasa yang pas kecuali “AYO BEKERJA JANGAN BICARA SAJA”
A Zainal Abidin Al-Floresi (Ketua MEK PCM Ngronggot)

Selasa, 01 November 2016

LazisMU Salurkan Listrik Gratis Pada 1.064 Rumah di Daerah Non Muslim NTT





LazisMu_ Sebagai komitmen membangun masyarakat yang adil dan sejahtera, Muhammadiyah melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Muhammadiyah (Lazismu) berpartisipasi aktif mewujudkan akses listrik bagi masyarakat miskin melalui program Indonesia Terang.Program tersebut akan menyasar 1.064 kepala keluarga di 6 desa di Kecamatan Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur yang merupakan masuk daerah tertinggal di Indonesia. Di wilayah NTT sendiri mayoritas masyarakatnya adalah non muslim, dalam melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan, Muhammadiyah khususnya Lazismu tak pernah membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan.Andar Wibowo Direktur Utama Lazismu mengungkapkan guna menyukseskan program tersebut pihaknya telah bekerjasama dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan akan mulai melakukan instalasi awal pada akhir oktober ini. “Jadi kami akan dibantu oleh TNP2K dalam hal data dan pemetaan keluarga miskin,” jelas Andar kepada awak media di Jakarta Convention Center.Program tersebut meliputi bantuan solar panel berkapasitas 100 Kwh yang secara gratis akan diberikan kepada rumah tangga miskin dan tidak mampu.“Ini program pertama Lazismu, program kedua rencananya akan menarget 10 ribu keluarga di wilayah Madura,” terang Andar.Regi Wahono ketua TNP2K mengatakan persoalan pengentasan kemiskinan bukan merupakan hal mudah. Kemiskinan di Indonesia didasari oleh tiga aksek yakni pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dasar.“Listrik ini masuk ke infrastruktur dasar. di Indonesia itu elektrifikasinya baru 88,3 persen sisanya 12 sekian persen masih mengandalkan lampu minyak tanah dan mengakibatkan dana subsidi pemerintah terganggu,” ucap Regi. Regi berharap program Indonesia Terang Lazimu dapat berguna dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat miskin. (sp/kbk)

Rabu, 26 Oktober 2016

SEMARAK GEMA MUHARRAM 1438 H MUHAMMADIYAH RANTING NGRONGGOT


Ngronggot-LAZISMU. Dalam rangka memeriahkan dan menyemarakkan peringatan tahun baru  1438 hijriyah, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Desa Ngronggot menggelar acara “Gema Muharram 1438” Acara yang berlangsung pada hari Ahad, 23 Oktober 2016 ini memiliki 3 agenda kegiatan yaitu : Pengobatan Gratis, Pengajian Umum dan Santunan Yatim dan Dhu’afa.
Pada acara pengobatan Gratis PRM Desa Ngronggot yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Aisyiyah Nganjuk yang dilaksanakan pada sore harinya sebanyak 45 orang yang memanfaatkan jasa pengobatan gratis tersebut.  Pada Acara Pengobatan Gratis juga hadir Tim dari Nusa Optik Cabang Nganjuk dan Kertosono yang dipimpin oleh Bapak Suliono menghadirkan tim dokter spesialis mata, sebayak 6 orang yang memanfaatkan jasa tersebut.

Pada malam harinya dilanjutkan dengan Pengajian Umum yang disampaikan oleh Bapak KH. Ali Mansur Kastam Pengasuh Pondok Pesantren YTP Kertosono, dalam uraiannya beliau menyampaikan agar umat Islam mampu memberikan kontribusi nyata pada masyarakat. Antusiasme masyarakat dalam mengikuti pengajian umum ini sangat tinggi, ini terlihat dari undangan yang tersebar sebanyak 250 namun yang hadir mencapai 400 orang. Sementara itu setelah pengajian umum dilanjutkan dengan penyerahan paket sembako oleh Lazismu Nganjuk. Sebanyak  50 yatim piatu dan kaum dhuafa di Desa Ngronggot Kecamatan Ngronggot menerima santunan berupa bingkisan paket sembako dari Lazismu Nganjuk.  Sebelumnya Santunan ini telah diberikan secara simbolis kepada 4 orang oleh Ketua Lazismu Nganjuk sebelum acara pengajian umum dimulai.

Dalam sambutannya Ketua Lazismu Nganjuk mengatakan bahwa santunan tersebut diberikan kepada 50 anak yatim dan dhuafa sebagai bentuk kepeduliannya terhadap sesama yang membutuhkan/kurang beruntung. Beliau berharap agar masyarakat mempercayakan penyerahan ZISWAF kepada Lazismu disamping Lazismu merupakan Lembaga Amil Zakat Nasional, Lazismu juga merupakan lembaga Amil Zakat yang transparan dan kredibel dan juga mempunyai komitmen untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran hal ini terlihat dari program- programnya.


Sementara itu Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Desa Ngronggot  Bapak Acub Zainal Abidin Al-Floresi  dalam sambutannya mengatakan, kegiatan seperti ini akan menjadi agenda tahunan PRM Desa Ngronggot, Pria asli Flores ini berharap dukungan dan do’a restu agar dalam melaksanakan amanah sebagai pimpinan ranting selalu istiqomah dalam memberikan pelayanan kepada umat. Beliau berjanji agar kegiatan seperti ini pada tahun- tahun akan datang lebih meriah dan lebih banyak lagi peserta yang mendapatkan manfaat baik santuan, pengobatan dan kegiatan lainnya yang akan digelar oleh PRM Desa Ngronggot

Seluruh rangkaian acara tersebut dilaksanakan di halaman rumah bpk H. Sabili Rahman Dusun Dingin Desa Ngronggot Kec. Ngronggot.

Lazismu – TNP2K Tandatangani MoU Program Indonesia Terang

Jakarta – LAZISMU. Untuk mewujudkan komitmen pemberdayaan, lembaga amil zakat nasional, Lazismu bersama Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K)  menggelar kick-off atau pembuka rencana agenda ujicoba program listrik bagi masyarakat miskin, di Sekretariat TNP2K, Kebon Sirih, Jakarta (13/9/2016).

Dalam pertemuan itu, dipaparkan bentuk program dan tahapan-tahapan program serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) program Indonesia Terang. Acara tersebut dihadiri Bambang Widianto, selaku Sekretaris Eksekutif TNP2K dan Hilman Latief, Ketua Badan Pengurus Lazismu. Sementara hadir juga perwakilan dari pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT dan Yayasan Besi Pae.
Jalinan kerjasama ini dilatarbelakangi, dengan perlunya akses bagi rumah tangga ekonomi terendah. Karena itu, Bambang Widianto, mengatakan, akses yang dimaksud adalah ada sekitar 1,6 juta rumah tangga miskin dan tidak mampu belum menikmati akses listrik terutama di desa yang tidak terjangkau.
Maka TNP2K melakukan uji coba secara bertahap, dan pada kesempatan ini bersinergi dengan Lazismu. “Terutama dalam pemberdayaan masyarakat secara produktif agar lebih tepat sasaran dan membantu penyelesaian masalah sosial masyarakat yang terus berkembang,” katanya.
Ketua Badan Pengurus Lazismu, Hilman Latief, menyambut baik rencana itu, karena sejalan dengan gerakan Lazismu dalam upaya mengentaskan permasalahan kemiskinan. “Selain itu,  sesuai dengan sasaran Lazismu khususnya di wilayah terluar, terjauh dan terdalam (3T),” jelasnya.
Hilman menambahkan, Lazismu berkomitmen untuk melakukan pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan. Hal ini, mencakup kemiskinan multi dimensional, teturama kesenjangan akses terhadap layanan dasar.
Karena itu, Lazismu dalam beberapa tahun ke depan terus berusaha memperkuat pengarusutamaan SDGs dalam program-programnya, jelasnya. Kerjasama ini merupakan satu bentuk implementasi program Lazismu di daerah  3T. “Dan sekaligus mendorong satu program SDGs yang terkait dengan Sustainable Villages Cities and Communities,” pungkasnya.
Hilman menekankan, prorgram Indonesia Terang, yang akan diuji coba di tiga desa yaitu, Naileu, Kusi Utara dan Oemaman di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan jumlah sasaran 283 Rumah Tangga Sasaran (RTS) bersama TNP2K dan mitra lainnya, diyakini Lazismu dapat meningkatkan kapasitas, produktifitas dan kemandirian desa.
“Produktivitas di sini terkait juga dengan kesempatan belajar lebih besar buat anak-anak usia sekolah, bekerja buat orang tua mereka, maupun untuk kegiatan sosial ekonomi,” terangnya.
Sumber : www.lazismu.org