Tampilkan postingan dengan label ORGANISASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ORGANISASI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2016

MILITANSI, Solusi Kelesuan Organisasi

http://almuflihun.com/wp-content/uploads/2014/08/p01-a_37.img_assist_custom-560x373.jpg

Militan merupakan kata/ ungkapan yang selalu terdengar menakutkan/ ekstrem ditelinga para musuh Islam, bahkan dikalangan kita pun kata/ ungkapan itu selalu identik kepada saudara kita Islam kanan/ Islam garis keras. So sebagaian dari saudara kita juga risih akan sebutan itu. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan militan dan perlukah Muhammadiyah akan hal itu?

 Militan sebagaimana dalam kamus besar bahasa Indonesia bermakna bersemangat tinggi. Untuk membina suatu organisasi diperlukan orang-orang yang militan dan penuh pengabdian. Dari makna tersebut dapat kita tarik benang merah bahwa sebenarnya militan adalah vitamin yang dibutuhkan oleh setiap organisasi untuk kelangsungan aktivitas organisasi ke depan yang telah tertera dalam program kerja. Perjalanan setiap organisasi memang tidak lepas dari orang-orang yang mempunyai ruh-ruh semangat tinggi (militan).

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan yang berkiprah dibidang dakwah, dalam sejarah berdirinya didirikan oleh seorang yang mempunyai ghirah perjuangan yang tinggi. Sehingga Muhammadiyah sampai sekarang eksistensinya selalu membawa perubahan bagi kehidupan bermasyarakat. Sungguh betapa dibutuhkannya  vitamin militan yang membawa kesegaran dan kebugaran organisasi. Di era masa kini banyak generasi kita terkonstaminasi penyakit-penyakit hedonisme, pragmatisme, dan isme-isme yang lain. Aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan hanyalah untuk kepentingan sesaat.

Ada yang untuk menghibur diri, ingin dipuji, gengsi, memuluskan kepentingan-kepentingan pribadi dan lain-lain. Senada dengan itu dan lagi membudaya di lingkungan kita adalah meletan. Meletan ini berasal dari bahasa jawa yang dalam bahasa Indonesianya berarti suka mencari dan membicarakan so mencela kekurangan orang lain tanpa ia sadari bahwa sebenarnya ia sendiri tidak mampu melakukan dan atau bahasa orang-orang akademi berbicara melangit tidak membumi.

Waakhiran tidak ada satu bahasa yang pas kecuali “AYO BEKERJA JANGAN BICARA SAJA”. Pemuda sebagai generasi yang masih mempunyai tenaga fresh untuk mengangkat senjata-senjata perjuangan demi terciptanya masyarakat yang berperadaban, membawa misi ilahiyah rahmatal lil,alamin harus benar-benar mengarahkan modal tenaganya kearah militansi. Karena tiada guna militansi tinggi yang tidak didukung dengan tenaga fresh.Militan bagi Pemuda Muhammadiyah adalah wajib adanya, karena dari situlah sebenarnya embrio-embrio inovasi akan menelurkan ide-ide cerdas yang membumi di Peryarikatan Muhammadiyah.  Kelesuan di organisasi selama ini akibat dari sebuah kemasan kegiatan yang monoton tanpa sebuah variasi yang memberikan image kepada warga bahwa ini adalah hal baru. Sehingga sebagian warga Muhammadiyah bergeming bahwa hanya begini-begini saja kegiatan Muhammadiyah. Dari kemiskinan inovasi tersebut banyak kita lihat kader-kader persyarikatan yang mempunyai militansi tinggi hijrah dari Muhammadiyah dan juga warga Muhammadiyah yang kita ajak berkegiatan tidak merespon.Walhasil mari kita bermilitansi ria dalam mengemban amanat dakwah ini sebagaimana bidang yang telah kita emban agar kelesuan selama ini menjadi fresh. Fasstabiqul khairat. 

3 Kekuatan Pendorong Muhammadiyah Eksis hingga sekarang



Dalam rangka memeriahkan Milad Muhammadiyah 107 H dan Pelantikan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Se Kabupaten Nganjuk dan Kwarda HW Kab. Nganjuk yang diselenggrarakan di Pendopo Nganjuk Ruang Anjuk Ladang. Ahad 25 Desember 2016. Wakil Ketua PWM Jawa Timur Prof. Dr. Thohir Luth, MA mengatakan Muhammadiyah memandang bahwa NKRI merupakan hasil Konsensus (kesepakatan) nasional dan tempat pembuktian atau kesaksian untuk menjadi negeri yang aman dan damai menuju kehidupan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat dalam naungan ridha Allah SWT. Hasil kesepakatan atau Konsensus itulah yang diistilahkan dengan Darul ‘Ahdi, Negara Kesepakatan Nasional. Sedangkan Negara Kesaksian diistilahkan dengan Darusy Syahadah. Sehingga Indonesia sebagai NKRI, dimaknai oleh Muhammadiyah sebagai Negara hasil kesepakatan nasional dan Negara kesaksian, Darul ‘Ahdi Wa Syahadah.

Pandangan kebangsaan Muhammadiyah ini sejalan dengan cita-cita Islam tentang Negara idaman yaitu, Baldatun Thayibatun Wa Rabbun Ghafur, yaitu negri yang baik dan berada dalam ampunan Allah SWT. Selanjutnya beliau mengaskan negara yg kita saksikan keberadaannya, bersama pemerintah membangun semua lini untuk mensejahterakan rakyat. Negara dan Ormas Islam hrs sinergi bagai gayung bersambut, krn jika hanya mengandalkan APBN, maka negara akan Hutang ke luar negeri, jika negara dan pemerintah mampu membangun sinergi dgn Muhahammadiyah akan bisa membangun unit layanan sosial, ekonomi pendidikan dan budaya. Indonesia tanpa Muhammadiyah bagaikan negara tersinari matahari yang tertutup mendung. Negara ini bisa bagus karena dipimpin oleh orang yg sehat dan pintar. Terkait dengan banyaknya orang asing yang datang ke Indonesia, Pemerintah harus bersikap tegas dan Jangan kalah dengan orang asing yang datang ke Indonesia untuk menguras habis SDA sekaligus menyebarkan Ideologinya.
Pada kesempatan lain beliau mengatakan bahwa Muhammadiyah eksis sampai dengan hari ini, bukan berarti tanpa masalah, dinamika sebuah perjuangan Muhammadiyah spt Matahari yang kadang tertutup mendung di siang hari, walaupun begitu Muhammadiyah mampu melewati itu semua karena ada 3 kekuatan besar muhammadiyah yg membuat tetap eksis:
1.      Ketulusan para pendiri dan pejuang.
Yang harus senantiasa kita cermati adalah hal yang akan menjadikan kebaikan itu bermakna adalah Ketulusan, yaitu perbuatan baik yang semata-mata kita lakukan hanya mengharap balasan dari Allah SWT. Sadarilah!! Orang yang tidak tulus akan capek dengan kebaikannya. Begitu sebaliknya ketulusan akan menjadikan pelaku kebaikan dalam puncak kepuasan hati. Saat kita berbuat baik kepada orang lain  hanya sebagai basa-basi sosial dan hanya mengharap balasan kebaikan berupa materi. Disaat kebaikan yang dinanti tidak kunjung didapat, maka rasa jengkel tersembunyi akan menguasai hati kita dan menghantarkan kita untuk menghitung-hitung kebaikan yang pernah kita lakukan.
2.      Amaliyah yg Istiqomah
Istiqamah adalah mudaawamah (kontinyu), rutin dan berkesinambungan. Layaknya orang yang menempuh perjalanan, tidak cukup baginya mengetahui arah jalan dan memahami rambu-rambu. Seseorang yang ingin sampai ke tujuan harus menempuh proses atau usaha untuk mendekati tempat tujuan. Dan tak ada cara yang lebih efektif mendekatkan seseorang ke tempat tujuan selain berjalan dengan kontinyu dan rutin. Karena itu berjuang di Muhammadiyah bukanlah perjalanan yang pendek, butuh nafas panjang dan stamina yang senantiasa terjaga.
3.      Militansi /Semangat dlm gerakan perjuangan.
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan yang berkiprah dibidang dakwah, dalam sejarah berdirinya didirikan oleh seorang yang mempunyai ghirah perjuangan yang tinggi. Sehingga Muhammadiyah sampai sekarang eksistensinya selalu membawa perubahan bagi kehidupan bermasyarakat. Sungguh betapa dibutuhkannya  vitamin militan yang membawa kesegaran dan kebugaran organisasi. Di era masa kini banyak generasi kita terkonstaminasi penyakit-penyakit hedonisme, pragmatisme, dan isme-isme yang lain. Aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan hanyalah untuk kepentingan sesaat. Disinilah pentingnya militansi bermuhammadiyah agar Muhammadiyah bisa eksis ila yaumil qiyamah. Tidak ada satu bahasa yang pas kecuali “AYO BEKERJA JANGAN BICARA SAJA”
A Zainal Abidin Al-Floresi (Ketua MEK PCM Ngronggot)