“JSM tidak dilembagakan bagaikan jaringan teroris, tidak berkantor, tapi dampaknya luar biasa. Wujudnya tidak terlihat,” Membangun ekonomi dan bisnis di Muhammadiyah bisa dilakukan melalui dua jalan; formal dan informal. Melalui jalur informal, salah satunya dengan dibentuknya Jaringan Saudagar Muhammadiyah. Para warga Muhammadiyah yang memiliki usaha diminta untuk bergabung dalam jaringan bisnis berbasis sharing economy ini. Dalam system ini, para anggota akan saling mendukung, berbagi ide dan jaringan untuk berkembang bersama. Kita harus memiliki prinsip bahwa bisnis dibangun dengan ide bukan dengan modal.

Ekonomi Muhammadiyah selama ini tidak bisa berkembang karena diserahkan pada yang bukan ahlinya. “Banyak diserahkan pada guru, dosen, dan bahkan politikus. Padahal mengelola ekonomi memiliki banyak conflict of interest, Selain itu kegagalan juga disebabkan oleh factor tidak mau belajar dan tidak melek teknologi informasi dan komunikasi. “Harus belajar dan menyesuaikan kebutuhan,”

MEK harus melakukan terobosan melalui JSM. Para anggota JSM terdiri dari beragam kalangan, mulai dari pengusaha Muhammadiyah yang sudah mapan hingga pengusaha yang baru memulai dan bergerak dalam sector Usaha Kecil Menengah (UKM). 

MEK dan JSM memiliki visi untuk mensukseskan usaha dari para warga Muhammadiyah dan sekaligus unit bisnis institusi Muhammadiyah. Kedua-duanya berjalan dan berkembang bersama. Sukses dalam bisnis pribadi dan juga bisnis persyarikatan Muhammadiyah. maka dengannya kita optimis bahwa keinginan Muhammadiyah menjadikan ekonomi sebagai pilar ketiga setelah pendidikan dan kesehatan akan bisa terwujud, asalkan para pemuda Muhammadiyah mampu mengambil momentum. “Ekonomi Indonesia saat ini digerakkan oleh anak-anak muda. Anak-anak muda Muhammadiyah harus ikut main,

(A. Zainal Abidin Al-Floresi (Ketua MEK PCM Ngronggot)